25 C
Jakarta
Tuesday, October 4, 2022
spot_img

Shoppe Lakukah PHK Masal

Perusahaan penasihat investasi, Nilzon Capital, menilai pemicu utama dari efisiensi yang dilakukan Shopee ada beberapa faktor. Salah satunya karena kenaikan suku bunga yang terjadi secara luas di banyak negara dengan ekonomi besar, dan antisipasi resesi dalam 2 tahun mendatang.

Kenaikan suku bunga dan treasury yield membuat cost of financing meningkat, di mana akses pendanaan menjadi tidak semudah dahulu dan semakin sedikit investor yang terbuka dengan ide “bakar uang”.

Dampaknya, banyak perusahaan dengan model bisnis yang tidak terlalu menarik dan belum menghasilkan cash flow yang positif harus melakukan efisiensi, pivot, hingga menutup usahanya.

Principal Advisor Nilzon Capital John Octavianus, menilai untuk kasus Shopee, walaupun skala operasionalnya sudah relatif besar, akses ke pendanaan segar di pasar modal menjadi tidak menarik karena induk usaha mereka, Sea Limited, mengalami penurunan harga saham yang sangat tajam, sebesar 83% selama setahun terakhir.

Sehingga, sudah sangat wajar jika Sea Limited dan Shopee lebih memilih efisiensi ketimbang mengumpulkan pendanaan di tengah harga saham yang sangat tidak menarik.

“Di sisi investor, kenaikan treasury yield memengaruhi discount rate atas free cash flow, sehingga pada akhirnya memengaruhi nilai wajar suatu perusahaan,” kata John.

Belum lagi pelaku pasar dan World Bank memprediksi akan adanya resesi di tahun 2023-2024. Hal ini dibuktikan dengan kurva treasury yield yang saat ini terlihat terbalik (inverted), mengindikasikan investor yang sedang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi pada ekonomi dunia.

Resesi akan mengakibatkan penurunan aktivitas ekonomi dan penurunan permintaan produk atau jasa oleh masyarakat. Dengan demikian, wajar jika perusahaan melakukan efisiensi khususnya pada departemen yang menjadi cost-center dan bersifat variabel terhadap jumlah transaksi perusahaan.

“Dengan demikian, wajar jika perusahaan melakukan efisiensi khususnya pada departemen yang menjadi cost-center dan bersifat variabel terhadap jumlah transaksi perusahaan.” ujarnya.

Selain iu, investor mulai meragukan profitabilitas dan model bisnis e-commerce di negara-negara berkembang, khususnya setelah Amazon secara mengejutkan mencatatkan kerugian operasional (operating loss) yang semakin parah untuk segmen usahanya di luar Amerika Utara.

“Hal ini membuat investor gugup karena ada kemungkinan model bisnis e-commerce di luar segmen Amerika Utara dan Eropa mungkin lebih sulit mencapai titik impas (breakeven), boro-boro mencatat keuntungan,” terangnya.

Tak ketinggalan penguatan dollar Amerika terhadap banyak mata uang negara berkembang dinilai memperkeruh situasi ekonomi, bersamaan dengan imported inflation dari Amerika Serikat dan Eropa yang pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat di banyak negara berkembang.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,513FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles