Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia di bumi ini adalah untuk beribadah kepada-Nya, sehingga perlu mengetahui rukun dari setiap ibadahnya.

Sudah sangat jelas di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Adapun salah satu bentuk beribadah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala adalah Shalat. Shalat wajib yang ada dalam Islam ada 5 yang di mana jika ditotal menjadi 17 rakaat. Subuh (2 rakaat), Dzuhur (4 rakaat), Ashar (4 rakaat), Maghrib (3 rakaat), dan Isya (4 rakaat).

Seorang muslim dikatakan beriman apabila ia telah menjalankan shalat fardhunya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“… maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya, shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa ayat 103]

Akan tetapi, sudah sesuaikah shalat kita dengan rukun shalat yang telah disyariatkan? Memang apa saja rukun shalat itu?

Apa itu Rukun Shalat?

Rukun shalat adalah setiap perbuatan dan perkataan yang akan membentuk hakikat shalat. Apabila salah satu rukun ini tak ada atau ditinggalkan, maka shalat tersebut secara syar’i tidak dianggap alias tidak sah dan tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi.

Dalam hal ini, meninggalkan rukun shalat ada dua aspek.

Pertama, meninggalkan rukun shalat dengan sengaja. Sesuai kesepakatan para ulama, kondisi seperti ini tentu shalatnya tidak sah dan batal.

Kedua, meninggalkan rukun shalat karena lupa atau tidak tahu. Dalam kondisi seperti ini, ada tiga perkara yang perlu diperhatikan.

1. Apabila mampu untuk mendapati rukun itu lagi, wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama.

2. Apabila tidak mampu untuk memperoleh lagi, shalatnya batal (menurut ulama-ulama Hanafiyah), sedangkan menurut jumhur ulama atau mayoritas para ulama berpendapat bahwa raka’at yang tertinggal rukun tadi jadi hilang.

3. Bilamana yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, shalatnya harus diulangi dari awal karena ia tak mengikuti shalat secara benar.

Adapun penjelasan terkait rukun shalat, akan dijabarkan sebagai berikut.

Sifat Wudu dan Shalat Nabi Ala Mazhab Syafi`I

Buku ini hadir sebagai fiqih shalat berdasarkan mazhab Syafi’i yang telah dituliskan oleh para ulama Syafi’i dalam kitab-kitab fiqih mereka. Di dalamnya memuat mulai dari tata cara wudhu dan tayamum, tata cara shalat, dan kesalahan dalam shalat.

Kemudian, terdapat pula dalil, penjelasan, juga praktik shalat, baik fardhu maupun sunnah.

13 Rukun Shalat 

Berikut yang termasuk dalam rukun shalat sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta penjelasan singkatnya.

1. Rukun Shalat: Berdiri bagi yang Mampu

Berdiri bagi yang mampu (untuk shalat wajib), sedangkan shalat sunnah boleh dilakukan dalam keadaan duduk, meskipun mampu.

Hakikatnya, shalat sunnah disunnahkan untuk berdiri, tidak wajib. Akan tetapi, alangkah lebih utamanya dilakukan dalam keadaan berdiri daripada duduk saat itu. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:

“Siapa yang mengerjakan shalat sambil berdiri, itu lebih afdhol. Siapa yang mengerjakan shalat sambil duduk akan mendapatkan pahala separuh dari shalat yang berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring, akan mendapatkan pahala separuh dari shalat sambil duduk.” [HR. Bukhari no. 1065]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Bukhari no. 1117, dari ‘Imron bin Hushain

“Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, kerjakanlah dengan tidur menyamping.” [HR. Bukhari no. 1117, dari ‘Imron bin Hushain]

Buku berjudul Sempurnakah Shalatku? Karena Beribadah Pangkal Diterima Amal hadir dalam rangka membantu dalam memahami hukum shalat berdasaran fikih yang diambil dari al Qur’an, hadits dan berbagai sumber kitab salaf, dengan harapan ibadah shalat Grameds sesuai dengan syari’at Islam.

2. Rukun Shalat: Niat yang Dibarengi dengan Takbiratul Ihram

Niat di dalam hati, tidak disyariatkan niat tersebut untuk dilafadzkan. Hal itu karena Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan untuk masing-masing orang tergantung dari apa yang ia niatkan.” [HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin al Khattab]

Hadits di atas juga dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin:

Niat berarti al Qashd (mempunyai maksud atau menyengaja). Dengan kata lain, seseorang yang shalat harus mengonsentrasikan berbagai pikirannya terhadap shalat yang sedang ia lakukan atau kerjakan dan sifat-sifatnya pun harus diingat pula, seperti bahwa ia sedang melakukan Shalat Dzuhur, Shalat Ashar, Shalat fardhu, dan shalat lainnya. Lalu, meniatkan perkara-perkara ini dengan niat yang dibarengi dengan awal awal takbir atau takbiratul ihram.

3. Rukun Shalat: Takbiratul Ihram (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

rukurn shalat

“Pembuka shalat adalah taharah (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir, sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” [HR. Abu Daud no. 618, at-Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam Irwa’ al-Ghalil no. 301]

Dalam melakukan takbiratul ihram, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan suaranya sehingga dapat didengar oleh para makmumnya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suara beliau dengan ucapan takbir sehingga dapat mendengarkan(nya) untuk para makmum di belakang beliau.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Hakim, dan dia menilainya shahih, serta disetujui pula oleh adz-Dzahabi]

Adapun yang dimaksud dengan rukun shalat adalah ucapan takbir “Allahu Akbar”. Ucapan takbir tersebut tidak dapat diganti dengan ucapan lainnya, meskipun maknanya sama.

4. Rukun Shalat: Membaca Surah Al-Fatihah di Setiap Raka’at Shalat

Di setiap raka’at shalat, kita disyariatkan untuk membaca surah al-Fatihah karena itu adalah wajib. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca [di dalamnya] surah al-Fatihah [ditambah ayat yang lain].” (diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu ‘Awanah dan al-Baihaqi. Hadits ini di-takhrij dalam Irwa ‘al-Ghalil no. 302)

Kemudian, di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan bahwa apabila seseorang yang shalat, akan tetapi tidak membaca surah al-Fatihah di dalamnya, shalatnya kurang. Maksud kurang di sini adalah tidak sempurna.

Dalam membaca surah al-Fatihah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dengan memenggal ayat demi ayat, kemudian berhenti, lalu membaca, kemudian berhenti lagi, lalu membaca lagi, dan seterusnya hingga akhir surah. Pembahasan mengenai surat al-Fatihah terdapat dalam buku berjudul Al Fatihah oleh Achmad Chodjim.

Setelah membaca surah al-Fatihah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah lainnya. Terkadang Rasulullah membacanya dengan panjang, terkadang dengan singkat apabila ada sebab. Misalnya, apabila beliau ada safar atau bepergian jauh, sakit, batuk, ataupun mendengar tangisan bayi.

Kumpulan hadits yang ada dalam kitab ini adalah hadits shahih yang memiliki kekuatan salil setingkat di bawah Al-Qur’an. Dengan kata lain, adanya hadits-hadits ini tak dapat dipisahkan dari umat Islam. Hal itu karena dalam melakukan suatu amalan, kita merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits.

Muhammad Fuad Abdul Baqi, penyusun kitab ini, telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam hal ini, buku ini berisikan kumpulan hadits shahih Bukhari dan Muslim, yakni mengenai bab iman dan shalat.

5. Rukun Shalat: Rukuk dan Thuma’ninah

Nabi Muhammad Shallallahu a’laihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang tidak benar (jelek) dalam shalatnya, bahkan beliau menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya beberapa kali sebab tak memenuhi rukun shalat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397

“Kemudian, rukuklah dan thuma’ninahlah saat rukuk.” [HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397]

Keadaan dalam rukuk ialah dengan membentangkan punggung dan meratakannya. Dalam hal ini, diibaratkan apabila dituangkan air di atas punggung, air itu tidak tumpah atau tetap di situ. Lalu, meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut dengan merenggangkan jari-jemari tangan.

Kemudian, thuma’ninah adalah keadaan atau kondisi tenang yang mana setiap persendian di dalam tubuh ini juga tenang.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada orang yang tidak benar shalatnya sehingga beliau menyuruh orang tersebut untuk mengulangi shalatnya. Sebagaimana beliau bersabda,

rukun shalat

“Tidaklah sempurna shalat hingga salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu … kemudian bertakbir, lalu melakukan rukuk dengan meletakkan telapak tangan di lutut hingga persendirian yang ada dalam keadaan thuma’ninah dan tenang.” [HR. Ad Darimi no. 1329. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]

Kemudian, adapun ulama yang mengatakan bahwa thuma’ninah sekadar membaca dzikir yang wajib dalam rukuk.

6. Rukun Shalat: I’tidal setelah Rukuk dan Thuma’ninah

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada orang yang tidak benar (jelek) dalam shalatnya,

HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397

“Kemudian, tegaklah badan (I’tidal) dan thuma’ninalah.” [HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397]

7. Rukun Shalat: Sujud Dua Kali dalam Satu Rakaat dan Thuma’ninah

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada orang yang tidak benar (jelek) dalam shalatnya,

rukun shalat

“Kemudian, sujudlah dan thuma’ninalah saat sujud.” [HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397]

Sangat penting untuk dipahami bahwa hendaklah dalam melakukan sujud harus memerhatikan 7 bagian anggota badan, di antaranya:

1. Telapak tangan kanan

2. Telapak tangan kiri

3. Lutut kanan

4. Lutut kiri

5. Ujung kaki kanan

6. Ujung kaki kiri

7. Dahi yang sekaligus hidung

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490]

“Aku diperintahkan bersujud dengan 7 bagian anggota badan: Dahi termasuk hidung (kemudian, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), telapak tangan kanan dan kiri, lutut kanan dan kiri, serta ujung kaki kanan dan kiri.” [HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490]

8. Rukun Shalat: Duduk di antara Dua Sujud disertai Thuma’ninah

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

rukun shalat

“Kemudian, sujudlah dan thuma’ninalah saat sujud. Lalu, bangkitlah dari sujud dan thuma’ninalah saat duduk. Kemudian, sujudlah kembali dan thuma’ninah saat sujud.” 

Buku Iqro Qosbah Cara Cepat Membaca Al-Qur’an berisikan 10 sifat buku iqra, di antaranya bacaan langsung, CBSA atau cara belajar santri aktif, privat, sesuai modul, asisten, praktif, sistematis, variatif, komunikatif, dan fleksibel. Dengan begitu, kalian akan lebih mudah dan cepat dalam membaca Al-Qur’an.

9. Rukun Shalat: Tasyahud Akhir dan Duduk Tasyahud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

HR. Bukhari no. 831 dan Muslim no. 402, dari Ibnu Mas’ud

“Apabila salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam shalat, ucapkanlah “at tahiyatu lillah …”. “(HR. Bukhari no. 831 dan Muslim no. 402, dari Ibnu Mas’ud)

10. Rukun Shalat: Membaca Tasyahud Akhir

Adapun bacaan tasyahud adalah sebagai berikut.

HR. Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 402

“At tahiyaatu lillah wash sholaatu wath thoyyibaat. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuh. Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadhillahish sholihin. Asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh.”

Artinya:

“Segala ucapan penghormatan hanya milik Allah, begitu juga segala shalat dan amal sholih. Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat Allah dengan segenap karunia-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang sholih. Aku bersaksi bahwa tidak ada illah (sesembahan) yang berhak disembah dengan benar, selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah.” [HR. Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 402]

11. Rukun Shalat: Bershalawat kepada Nabi setelah Mengucapkan Tasyahud Akhir

Wajibnya bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya yang mana orang tersebut tidak memuji dan menyanjung Allah Ta’ala serta tidak pula bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, “orang ini terburu-buru”.

Kemudian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil sambil berkata kepadanya dan kepada yang lain juga, “Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah ia memulai dengan memuliakan dan menyanjung Rabbnya Yang Mahaagung lagi Mahamulia, lalu bershalawat (dalam satu riwayat, ‘hendaklah ia bershalawat’) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berdoa dengan apa yang ia inginkan.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim dan dia menilainya shahih serta disetujui oleh adz-Dzahabi]

Kemudian, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang lelaki yang sedang shalat, orang itu memuliakan dan memuji Allah Ta’ala, serta bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda, ‘berdo’alah, niscaya do’amu akan dikabulkan dan mintalah, niscaya permintaanmu akan diberikan’.” [Diriwayatkan an-Nasa’I dengan sanad shahih]

Adapun shalawat yang paling bagus adalah berikut ini.

HR. Bukhari no. 4797 dan Muslim no. 409, dari Ka’ab bin ‘Ujroh

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa ibraahim wa ‘alaa aali Ibrahim, innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik a’la Muhammad wa a’laa ali Muhammad, kamaa baarakta ‘ala Ibraahiim wa a’la aali Ibrahim innaka hamidun majiid. [HR. Bukhari no. 4797 dan Muslim no. 409, dari Ka’ab bin ‘Ujroh.]

12. Rukun Shalat: Salam

Dalilnya hadits yang telah disebutkan di awal,

rukun shalat

“Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir, sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” [HR. Abu Daud no. 618, at-Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam al-Irwa’ no. 301]

Yang dimaksudkan dalam rukun di sini ialah salam yang pertama. Inilah pendapat dari ulama Syafi’iyah, Malikiyah, dan mayoritas para ‘ulama. Terdapat empat model, di antaranya.

1. Salam ke kanan sambil mengatakan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”, kemudian salam ke kiri sambil mengatakan “Assalamu a’laikum wa rahmatullah”.

2. Salam ke kanan sambil mengatakan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”, kemudian salam ke kiri sambil mengatakan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.

3. Salam ke kanan sambil mengatakan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”, lalu salam ke kiri sambil mengatakan “Assalamu a’laikum”.

4. Salam hanya sekali ke kanan sambil mengatakan “Assalamu a’laikum”.

Sudah benarkah shalat kita?

Buku ini disajikan lengkap mulai dari persiapan shalat, cara shalat sambil duduk ketika sakit, shalat di atas perahu, shalat tahajud dengan berdiri dan duduk, hal-hal yang dapat memutus shalat, gerakan dan bacaan shalat, faedah penting shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta doa sebelum salam beserta ragamnya.

Semua itu tersaji lengkap disertai dengan gambar tata cara shalat sehingga lebih memudahkan pembaca dalam memahami isi buku ini.

Dalam penulisannya pun, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berusaha memaparkan dengan cermat tata cara shalat yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadis-hadis shahih pilihan.

13. Rukun Shalat: Berurutan dalam Rukun-Rukun yang Ada (Tertib)

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin sebelumnya, Rasulullah Shallallahu a’laihi wa sallam berkata pada orang yang jelek shalatnya, di dalam hadits tersebut digunakan kata tsumma dalam setiap rukun. Adapun kata “tsumma” memiliki makna “urutan”.

Pada pembahasan rukun sholat ini, banyak disarikan dari penjabaran Syaikh Abu Malik dalam kitab Shahih Fiqh Sunnah terbitan Al Maktabah at-Taufiqiyah.

Itulah pembahasan mengenai Rukun Sholat beserta penjelasannya. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu kalian dalam melaksanakan dan memenuhi rukun-rukun shalat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.