Rupiah sukses menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/7/2022). Indeks dolar AS yang berbalik turun membuat rupiah mampu menguat.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,27% ke Rp 14.950/US$, dan sempat bertambah hingga 0,34%.

Namun setelahnya penguatan rupiah terpangkas hingga melemah tipis ke Rp 14.991/US$. Di penutupan perdagangan rupiah berada di Rp 14.982/US$, menguat 0,05% di pasar spot.

Indeks dolar AS pada Jumat pekan lalu merosot 0,44%, dan hingga sore ini turun lagi 0,6% ke 107,41.

Penurunan tersebut terjadi setelah beberapa pejabat elit bank sentral AS (The Fed) menyatakan lebih memilih menaikkan suku bunga 75 basis poin di bulan ini, ketimbang 100 basis poin seperti ekspektasi pelaku pasar.

Presiden The Fed wilayah St. Louis, James Bullard mengatakan meski inflasi belum mencapai puncaknya, iya yakin di tahun 2023 akan terjadi penurunan, dan untuk saat ini ia tidak mendukung kenaikan 100 basis poin.

Bullard merupakan salah satu pejabat The Fed yang paling hawkish. Pernyataanya yang tidak mendukung kenaikan 100 basis poin menjadi 2.5% – 2,75% langsung membuat probabilitas di pasar menurun.

Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini melihat probabilitas kenaikan 100 basis poin hanya 28%, turun jauh ketimbang pekan lalu yang mencapai 80% setelah rilis data inflasi yang menembus 9,1% year-on-year (yoy) tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Sementara probabilitas kenaikan sebesar 75 basis poin menjadi 2,25% – 2,5% kini sebesar 71%. Hal ini membuat indeks dolar AS mengalami koreksi yang membuat rupiah mampu menguat.

Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar menanti Bank Indonesia (BI) yang akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada 20 dan 21 Juli mendatang. Pasar akan melihat apakah Gubernur BI Perry Warjiyo dan kolega akan menaikkan suku bunga acuannya BI 7-Day Reverse Repo Rate, atau masih mempertahankannya di rekor terendah sepanjang sejarah 3,5%.

Sejauh ini BI masih enggan menaikkan suku bunga, sebab inflasi inti di dalam negeri masih rendah, begitu juga nilai tukar rupiah yang masih di bawah Rp 15.000/US$.

Memang sepanjang tahun ini rupiah sudah melemah sekitar 4,9% melawan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi kinerjanya jauh lebih baik dari mata uang utama Asia lainnya.
Meski bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) sangat agresif menaikkan suku bunga, tetapi Perry berulang kali menegaskan tidak perlu merespon dengan ikut menaikkan suku bunga. Inflasi inti dan stabilitas rupiah tetap dijadikan patokan. Meski demikian, Perry juga menyatakan kesiapannya dalam menaikkan suku bunga.

“Bank Indonesia akan tetap mewaspadai tekanan inflasi dan dampaknya terhadap ekspektasi inflasi, serta siap menyesuaikan suku bunga jika ditemukan tanda-tanda peningkatan inflasi inti,” kata Deputi Gubernur Juda Agung dalam diskusi bertema ‘Central Bank Policy Mix for Stability and Economic Recovery’ yang merupakan rangkaian Pertemuan ketiga Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) dan Finance Central Bank Deputies Meeting (FCBD) resmi berlangsung hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.