Inflasi yang tinggi membuat mayoritas negara G20 mengerek suku bunga, bahkan beberapa sangat agresif. Namun, ada beberapa negara yang masih enggan untuk menaikkan suku bunga dengan berbagai alasan.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan semakin agresif di bulan ini.

Inflasi di AS masih belum menunjukkan tanda-tanda melandai, bahkan terlihat makin lepas kendali. Padahal The Fed sudah 3 kali menaikkan suku bunga dengan total 150 basis poin menjadi 1,5% – 1,75%.

 

Berdasarkan data dari Departemen Tenaga Kerja AS, inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) meroket 9,1% year-on-year (yoy) pada Juni, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 8,6% dan ekspektasi Dow Jones 8,8%.

The Fed di bawah Jerome Powell berencana menaikkan suku bunga 50 – 75 basis poin di bulan ini. Namun, pasar kini melihat bank sentral paling powerful di dunia ini akan menaikkan 100 basis poin.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat ada probabilitas sekitar 80% The Fed akan menaikkan suku bunga 100 basis poin menjadi 2,5% – 2,75% pada rapat kebijakan moneter 2 pekan ke depan.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu bank sentral yang belum menaikkan suku bunga. Alasannya, inflasi inti yang masih rendah. Meski The Fed sangat agresif dalam menaikkan suku bunga, Gubernur BI Perry Warjiyo berulang kali menegaskan tidak perlu merespon dengan ikut menaikkan suku bunga. Inflasi inti dan stabilitas rupiah tetap dijadikan patokan.

Inflasi pada Juni 2022 tercatat 0,61% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Inflasi tahun kalender adalah 3,19%
Secara tahunan, inflasi Juni 2022 berada di 4,35% (yoy). Lebih tinggi dibandingkan Mei 2022 yang 3,55% sekaligus jadi yang tertinggi sejak Juni 2017.

Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,63% dan harga yang diatur pemerintah 5,33% serta yang bergejolak 10,3%.

Inflasi inti yang masih di bawah 3% membuat BI masih terus mempertahankan suku bunga acuannya 3,5%. Meski demikian, BI sudah menegaskan siap menyesuaikan suku bunga jika inflasi inti terus menanjak.

“Bank Indonesia akan tetap mewaspadai tekanan inflasi dan dampaknya terhadap ekspektasi inflasi, serta siap menyesuaikan suku bunga jika ditemukan tanda-tanda peningkatan inflasi inti,” kata Deputi Gubernur Juda Agung dalam diskusi bertema ‘Central Bank Policy Mix for Stability and Economic Recovery’ yang merupakan rangkaian Pertemuan ketiga Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) dan Finance Central Bank Deputies Meeting (FCBD) resmi berlangsung hari ini, Rabu (13/7/2022) di Bali Nusa Dua Convention Center.

Dengan alasan yang sama, bank sentral Jepang (BoJ) juga enggan menaikkan suku bunga acuannya yang saat ini minus 0,1%. Bahkan, BoJ masih menerapkan program pembelian aset.

Bank sentral pimpinan Haruhiko Kuroda ini justru menyatakan siap mengucurkan stimulus tambahan jika diperlukan. Hal tersebut tersurat dalam rilis notula rapat kebijakan moneter BoJ Edisi Juni.

Hal ini tidak lepas dari inflasi, tanpa item energi masih sangat rendah.

Dalam pengumuman kebijakan moneter Jumat pekan lalu, BoJ mempertahankan suku bunga sebesar minus (-) 0,1%, dan yield curve control (YCC), dimana obligasi tenor 10 tahun imbal hasilnya dijaga dekat 0%.

Dengan kebijakan YCC, ketika imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menjauhi 0%, maka BoJ akan melakukan pembelian. Artinya, “menyuntikkan” likuiditas ke perekonomian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.