Mata uang Indonesia kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) Selasa lalu setelah mampu menguat dua hari beruntun. Rupiah mengakhiri perdagangan di Rp 14.985/US$, melemah 0,01%. Rabu kemarin rupiah ditutup stagnan di harga yang sama.

Hari ini, rupiah kembali terkoreksi di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) kemudian tertahan di Rp 14.990/US$ hingga perdagangan tengah hari. Pelemahan ini dipicu oleh Indeks dolar AS tak hentinya menguat yang dipicu oleh kekhawatiran akan resesi.

Meski telah bermain-main di sekitar level Rp 15.000/US$, rupiah tak kunjung ditutup di batas tersebut. Terakhir kali rupiah ditutup di level itu terjadi sudah lebih dari dua tahun lalu pada Mei 2020. Kuatnya dolar juga membuat mata uang dunia lain ikut merana termasuk euro yang untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, nilai tukarnya sama dengan dolar AS.

Pelemahan rupiah tentu menjadi tantangan bagi pasar modal dalam negeri, baik itu dari potensi kaburnya dana asing hingga kinerja sejumlah emiten yang bisa jadi melempem.

Sejumlah emiten yang melantai di bursa memang cukup terdampak atau pelemahan rupiah khususnya yang mengandalkan impor untuk menyediakan bahan baku, memiliki utang global dalam mata uang asing dan dekat jatuh tempo serta secara eksklusif pendapatannya hanya ditopang oleh rupiah. Perusahaan yang memiliki tiga kombinasi tersebut tentu akan sangat waswas terhadap pelemahan rupiah.

Sebaliknya, terdapat pula sejumlah emiten yang tahan banting melawan pelemahan rupiah atau bahkan diuntungkan atas kondisi tersebut. Emiten-emiten tersebut khususnya adalah yang pendapatannya ditopang dari penjualan ekspor dan memiliki level utang rendah dengan paparan obligasi mata uang asing relatif kecil atau tidak ada sama sekali.

Berikut adalah sejumlah emiten yang cukup kuat melawan pelemahan rupiah di hadapan dolar AS.

Emiten batu bara

Emiten batu bara merupakan salah satu yang diuntungkan dari pelemahan rupiah, karena sebagian besar emiten di sektor ini mengandalkan ekspor sebagai pendapatan utama. Hal ini setidaknya akan tercermin dari kinerja keuangan perusahaan, menyusul harga batu-bara yang sempat menembus rekor tertinggi tahun ini.

Meski dilihat dari kinerja saham, sejumlah emiten batu bara sudah mengalami kenaikan yang cukup tinggi, dengan pasar energi yang semakin volatil. Ancaman resesi yang memaksa bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya menjadi alasan utama koreksi harga minyak di pasar global beberapa waktu terakhir.

 

Selain itu, secara umum emiten pertambangan memiliki level utang yang relatif rendah, sehingga paparan akan obligasi global juga terbatas. Data Refinitiv mencatat bahwa lebih dari dua pertiga emiten yang bergerak di sektor energi dan masih aktif melaporkan kinerja keuangannya memiliki rasio lancar (current ratio) di atas 1, yang berarti aset lancar perusahaan dapat menutupi liabilitas jangka pendek.

Emiten CPO

Selain batu bara, komoditas lain yang harganya sempat naik tinggi adalah produk turunan kelapa sawit. Emiten CPO dan kelapa sawit yang pendapatannya juga ditopang oleh kinerja ekspor sejatinya masih cukup tangguh menghadapi pelemahan dolar, hanya saja ancaman utama datang dari kondisi ekonomi global dan harga minyak nabati dunia.

Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) yang sempat terbang melewati level MYR 7.100/ton pada akhir April lalu, kini mulai mendingin dan saat ini harganya berada di level MYR 3.800/ton.

Mengacu pada data Refinitiv , harga CPO telah membalikkan keuntungan yang didapatnya di sepanjang tahun ini. Kini, harga CPO drop 7,48% secara year-on-year (yoy). Bahkan, secara bulanan harga CPO anjlok 31,75% dan ambles 6,74% di sepanjang pekan ini.

Minyak sawit ikut melemah dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak nabati lainnya serta potensi lockdown yang akan diterapkan oleh pemerintah China. Selain itu jika ekonomi global mengalami resesi, permintaan akan minyak nabati juga diprediksi akan turun.

Emiten lain yang ditopang ekspor

Selanjutnya terdapat sejumlah emiten lain di luar komoditas yang bisnisnya ikut ditopang oleh kinerja ekspor. Sejumlah emiten dengan kinerja ekspor baik termasuk emiten konsumer Mayora Indah (MYOR).

Perusahaan produsen permen Kopiko ini memang terkenal mengandalkan ekspor sebagai salah satu keran pendapatan utama, hal ini juga terlihat dari iklan pemasaran agresif yang bahkan sudah merambah hingga ke Korea.

Hingga akhir kuartal pertama tahun ini, pendapatan MYOR dari ekspor mencapai Rp 2,94 triliun atau setara dengan 39% pendapatan total perusahaan yang nilainya sebesar Rp 7,58 triliun.

Selanjutnya dari neraca laba rugi, 60% dari kas dan setara kas perusahaan yang nilainya mencapai Rp 4,36 triliun tersimpan dalam bentuk mata uang asing, dengan nyaris seluruhnya dalam dolar AS atau mencapai 2,48 triliun. Simpanan dolar AS di bank berelasi mencapai Rp 343,16 miliar, di bank pihak ketiga Rp 814,14 miliar dan terakhir deposito berjangka dalam mata uang dolar AS nilainya mencapai Rp 1,22 triliun.

 

Emiten lain yang sepertinya akan mulai melakukan ekspor juga menarik untuk diperhatikan, seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan Japfa Comfeed Indonesia (JPFA). Meski demikian saat ini, penghasilan ekspor kedua emiten ini masih sangat minimal.

Kemarin, CPIN mengumumkan telah melakukan ekspor perdana produk unggasnya ke Singapura sebanyak 50.000 Kg ekspor produk unggas. Sebelumnya CPIN telah menandatangani kesepakatan kerjasama dengan importir Singapura sebanyak 1.000.000 Kg, yang akan dikirim bertahap hingga akhir 2022. Jumlah tersebut bisa terus bertambah menyesuaikan dengan kondisi di Singapura.

Selain CPIN, emiten olahan makanan JPFA juga memperoleh izin ekspor ke Singapura melalui PT Ciomas Adisatwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.