konflik rusia ukraina

Rusia menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir di Ukraina. Pernyataan tersebut sedikit menurunkan tensi perang yang hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan berakhir tersebut.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir di Ukraina. Menurutnya, yang akan dipakai hanya senjata konvensional.

Adapun, pada awal perang, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan nuklir Rusia ditempatkan dalam siaga tinggi. Sejumlah tokoh pemerintah Rusia telah mengisyaratkan negara itu akan bersedia menggunakannya dalam keadaan tertentu.

Lavrov juga mengatakan dengan serangan Rusia sekarang terfokus di timur Ukraina, perang memasuki fase baru. Pernyataan itu senada dengan yang dilontarkan pihak militer Ukraina.

“Operasi di timur Ukraina bertujuan, seperti yang diumumkan sejak awal, untuk sepenuhnya membebaskan republik Donetsk dan Luhansk [yang memproklamirkan diri]. Dan operasi ini akan berlanjut,” katanya kepada¬†India Today, dikutip¬†BBC, Selasa (19/4/2022).

“Tahap lain dari operasi ini sedang dimulai, dan saya yakin ini akan menjadi momen yang sangat penting dari seluruh operasi khusus ini,” imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pasukan Rusia secara besar-besaran sudah terkonsentrasi di Timur Ukraina, khususnya di Donbas.

Mereka, kata dia, akan fokus pada serangan itu. Ia pun menggarisbawahi bahwa Ukraina tak akan gentar dan pasti akan berjuang melawan serangan Rusia.

“Tidak peduli berapa banyak prajurit Rusia yang mereka bawa ke daerah itu, kami akan terus berjuang dan bertahan,” katanya seperti diberitakan¬†CNN International.

“Kami akan melakukan ini setiap hari. Kami tidak akan menyerahkan apa pun yang Ukraina tetapi kami tidak membutuhkan apa pun yang bukan milik kami,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.