Konfllik Rusia Ukraina

Pemerintah Rusia mulai menyuarakan dampak serangan yang dilakukannya terhadap Ukraina. Kali ini, Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina menyebut bahwa cadangan keuangan Negeri Beruang Merah itu mulai terganggu.

Dalam pernyataan persnya, Nabiullina menyebut sanksi ekonomi negara Barat pasca keputusan Moskow menyerang Ukraina membuat ekonomi Rusia tidak dapat bertahan tanpa batas waktu. Saat ini pihaknya sedang menyusun rencana baru yang menargetkan inflasi hingga 4% pada 2024 mendatang.

“Masa ekonomi yang bisa hidup dari cadangan memang terbatas dan pada triwulan II dan III kita akan memasuki masa transformasi struktural dan pencarian model bisnis baru,” ujarnya seperti dikutip Reuters.

“Sanksi, terutama mempengaruhi pasar keuangan. Tetapi sekarang mereka akan mulai makin mempengaruhi perekonomian.”

Salah satu rencana yang disorotinya adalah penyesuaian pada perdagangan internasional. Ia meminta agar produsen Rusia mulai mencari mitra perdagangan dan juga logistik yang baru.

“Masalah utama akan terkait dengan pembatasan impor dan logistik perdagangan luar negeri dan di masa depan dengan pembatasan ekspor. Eksportir perlu mencari mitra baru dan pengaturan logistik dan semua ini akan memakan waktu,” ujarnya lagi.

Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk membuat penjualan hasil valas oleh eksportir lebih fleksibel. Pihaknya juga sedang menguji penerbitan rubel digital untuk memungkinkan warga Rusia melakukan transfer antar dompet digital.

“Operasi percontohan yang terkait dengan proyek itu direncanakan pada paruh kedua tahun ini,” tambahnya.

Sebelumnya, Bank sentral Rusia mendongkrak suku bunga utamanya lebih dari dua kali lipat menjadi 20%. Namun kemudian Moskow memotongnya bulan ini menjadi 17% yang menandai tantangan ekonomi dan perlambatan inflasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.